
قال الإمام ابن القيِّم – رَحِمَهُ الله –
القَلْبُ المَيِّتُ الّذى لاَ حَيَاةَ بِهِ فَهُوَ لَا يَعْرِفُ رَبَّهُ، وَلَا يَعْبُدُهُ بِأَمْرِهِ وَمِا يُحِبُّهُ وَيَرْضَاهُ، بَلْ هُوَ وَاقِفٌ مَعَ شَهْوَاتِهِ وَإِرَادَتِهِ؛ وَلَوْ كَانَ فِيْهَا سَخَطُ رَبِّهِ وَغَضَبِهِ، فَهُوَ لَا يُبَالِى.
إغاثة اللَّهفان (٤٤/١)
Berkata Al Imam Ibnul Qoyyim rahimahullah :
“Hati yang mati, yang tidak ada kehidupan padanya. Ia tidak ingat kepada Rabb-Nya, tidak akan beribadah sesuai dengan perintah-Nya, tidak mencintai-Nya dan tidak ridho kepada aturan-Nya. Ia berlabuh dengan syahwat dan keinginannya kendati pada kemaksiatan itu terdapat kemurkaan dan kemarahan Rabb-Nya, ia tidak peduli.”
Ighotsatul Lahafaan (1/44)



